Gunung Soputan Meletus, Erupsi Bromo Masih Berlanjut

Soputan-8-Maret-minahasaWakoka.Co.Id – Gunung Soputan di perbatasan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara meletus pada Senin (4/1/2016) pukul 20.53 Wita. Status gunung tersebut naik menjadi Siaga.

“Masyarakat atau pengunjung dilarang beraktivitas dalam radius empat kilometer dan sektoral 6,5 kilometer ke arah barat daya-barat-barat laut dari puncak Gunung Soputan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho seperti dikutip Antara, Senin malam.

Pada saat meletus, gunung api di Provinsi Sulawesi Utara itu mengeluarkan asap kelabu tebal setinggi 2.000 meter. Semburan abu vulkanik mengarah ke tenggara.

Lava pijar tampak menuruni lereng gunung bagian timur dan suara gemuruh dari arah puncak gunung.

Menurut Sutopo, masyarakat belum perlu mengungsi karena permukiman masih jauh di luar dari radius yang dilarang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara masih melakukan koordinasi terkait dengan antisipasi yang harus dilakukan.

“Hujan abu tipis terjadi di beberapa daerah seperti di Langowan di Minahasa. BPBD masih melakukan pemantauan daerah yang hujan abu vulkanik,” kata Sutopo.

Masyarakat Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara tetap beraktivitas normal. Tidak ada kepanikan karena masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi erupsi Gunung Soputan yang sering meletus dengan intensitas yang tidak terlalu besar dan memberikan dampak merugikan.

Dengan naiknya status Gunung Soputan menjadi siaga, maka dari 127 gunung api aktif di Indonesia, terdapat satu status Awas, yaitu Gunung Sinabung, empat status Siaga (Soputan, Bromo, Karangetang dan Lokon), dan 15 status Waspada.

bromo-erupsi

Sementara itu, aktivitas erupsi Gunung Bromo terus mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Tremor erupsi menerus dengan amplitudo dominan 5 mm.

Kondisi tersebut hampir sama saat pertama meletus pada 4 Desember 2015. Tampak asap kelabu sedang-tebal, tekanan sedang-kuat, tinggi asap berkisar 1.500 meter dari puncak ke utara. Belum perlu ada pengungsian tetapi masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer.

Sementara itu, Status Gunung Bromo hingga Senin (4/1/2016) masih siaga.
Semalam sebelumnya, dilaporkan, percikan api mulai terlihat lebih besar ketimbang beberapa hari sebelumnya.
Kawah magma yang sudah lebih luas membuat percikan api yang keluar lebih tanpak.
Percikan itu sebelumnya memang telah beberapa kali terlihat. Akan tetapi, tak sebesar kondisi terakhir.

“Secara umum kondisinya relatif sama dengan sebelumnya. Percikan api itu sudah tanpak juga. Tapi kemarin itu kelihatan lebih gede,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semur (TNBTS) Ayu Bewi Utari, saat dihubungi dari Malang, Senin (4/1/2015).
Sementara arah abu vulkanik mengarah ke Kabupaten Probolinggo pada Senin malam.
Ayu menyebut, arah angin terus bergerak selama beberapa hari terakhir.
Meski begitu, tremor Bromo cenderung justru menurun. Kemarin, kekuatan tremor berkisar di amplitudo 5 milimeter.
Padahal, bebererapa hari sebelumnya, kekuatan itu hampir mencapai tiga kali lipatnya.
“Memang tremor berkurang, tapi kondisi percikan api yang justru terlihat membuat statusnya masih sama,” tambah Ayu.
Ia menjelaskan, belum ada perubahan batas aman di gunung tersebut. Seluruh kaldera masih ditutup.

TNBTS mulai kemarin juga menutup jalur pendakian untuk umum di Gunung Semeru sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Penutupan terutama karena badai di kawasan gunung itu dan pemulihan ekosistem.
“Itu artinya, pengumuman sebelumnya tertanggal 22 April 2015 tentang pembukaan jalur pendakian sudah tidak berlaku,” kata Ayu.

Facebook Comments