Dilema Muslim Amerika – Ditangkap Karena Membuat Jam Digital

ahmed-mohamed-jam-digitalNews.Wakoka.Co.Id – Ketika berangkat ke Sekolah, Ahmed Mohamed, Bocah 14 tahun yang bercita-cita jadi insinyur itu sangat gembira. Dia ingin menunjukkan Jam Digital hasil rakitannya yang dirangkai dalam tas pensil kepada Guru Teknologinya.

Alih-alih mendapat pujian, sang Guru justru memanggil Polisi untuk menangkapnya karena mengira yang dibuat Ahmed adalah sebuah Bom. Siswa SMA tersebut diboyong ke pusat penahanan remaja dan diinterogasi terkait barang rakitan yang ia bawa.

“Mereka menangkap saya dan mengatakan saya melakukan kejahatan dengan bom Hoax, Bom Palsu” Katanya ketika diwawancara WFAA  setelah beberapa saat dibebaskan.

Juru bicara Kantor Kepolisian setempat James McLellan mengatakan

“Kami menanyakan padanya apa itu dan Dia mengatakan bahwa itu Jam”, “Remaja itu mengatakan demikian karena, itu memang Jam” Katanya.

Pada hari Rabu, Polisi mengatakan tidak akan menahan Ahmed Mohamed.

Peristiwa disebuah SMA di Irving, Texas, AS itu segera menjadi topik hangat di media sosial. Tagar #IStandWithAhmed bertebaran di ranah maya untuk menyatakan dukungan terhadap Ahmed.

Tagar itu sudah dikicaukan di Twitter sebanyak lebih dari 400.000 kali. Tiap menit, muncul sekitar 2.000 kicauan baru untuk mendukung Ahmed. Ada yang prihatin, marah, kesal, dan membuat guyonan satire terhadap ketidakadilan yang dialami Ahmed.

“Ketika murid lebih pintar daripada guru #IStandWithAhmed,” tulis pengguna akun @LadyA08.

“Kulit putih membuat reaktor nuklir? Genius. Anak Muslim kulit gelap membuat jam digital? Teroris #IStandWithAhmed,” tulis pengguna akun @Main_Pakistani.

“Jangan biarkan orang-orang mengubahmu dan menghalangimu #IStandWithAhmed,” tulis pengguna akun @samwhite.

Tak hanya dari masyarakat umum, para CEO perusahaan TI, industri, hingga politisi turut meramaikan linimasa dengan dukungan maya untuk Ahmed.

“Asumsi dan ketakutan tak menyelamatkan kita. Ahmed, tetaplah penasaran dan terus membangun,” kata calon kandidat presiden AS, Hillary Clinton, melalui akun @HillaryClinton.

“#IStandWithAhmed karena anak-anak seperti dia adalah masa depan inovasi dunia. Datanglah ke workshop kami, dan kami akan memberimu alat-alat bagus untuk berbuat lebih,” tulis perusahaan software Autodesk melalui akun @autodesk.

“Jam yang keren, Ahmed. Ingin membawanya ke Gedung Putih? Kita harus menginspirasi anak-anak lainnya untuk menyukai teknologi. Itu yang membuat Amerika hebat,” tulis Presiden Obama lewat akun @POTUS.

Pendiri Twitter, Jack Dorsey, pun me-retweet kicauan Obama, dan tak lupa mematrikan tagar #IStandWithAhmed.

Melihat undangan Presiden AS dan CEO Facebook, pendiri Box, Aaron Levie, tak ingin ketinggalan. “Ahmed, saya tahu kamu telah dipanggil ke Gedung Putih dan Facebook. Namun, kami tahu bahwa kamu adalah anak software sejati. Datanglah ke Box,” kata dia lewat akun @levie.

Google Science Fair, lewat akun @googlescifair, juga mengundang Ahmed untuk berdiskusi. “Hai Ahmed, kami menyimpankan satu kursi untukmu pada akhir pekan ini di Google Science Fair. Ingin datang? Bawa arlojimu #IStandWithAhmed.”

Startup arloji pintar, Pebble, bahkan mencibir pihak sekolah Ahmed yang dianggap mencerminkan sikap tak adil terhadap anak didiknya. “Kami juga membuat jam digital, kau juga akan menangkap kami? (Ahmed) teruslah menciptakan #IStandWithAhmed,” tulis pengguna akun @Pebble. Kicauan itu disertai mention ke akun @IrvingISD yang tak lain adalah akun sekolah Ahmed.

Pihak sekolah mengeluarkan pernyataan, menyusul kecaman dari masyarakat yang menjunjung kesetaraan.

“Kami selalu bertanya kepada siswa dan staf untuk segera melapor bila melihat ada sesuatu atau ada tingkah laku yang mencurigakan,” kata perwakilan sekolah.

Ayah Ahmed, Mohamed Elhassan, asal Sudan, mengatakan bahwa putranya hanya ingin membuat sesuatu yang bagus. “Namun karena namanya Mohamed dan karena kejadian 11 September, putra saya mendapatkan perlakuan tak layak,” kata Mohamed.

Dewan Hubungan Amerika-Islam mengatakan, kecurigaan ayah Ahmed mungkin tepat. “Saya rasa ini tidak akan dipertanyakan bila namanya bukan Ahmed Mohamed,” kata Alia Salem, anggota dewan setempat.(dari berbagai sumber)

Facebook Comments