Dawet Jabung – Beda dari Dawet yang Lain

dawet-jabungNews.Wakoka.Co.Id – Ponorogo menyimpan banyak kekayaan kuliner salah satunya Dawet Jabung. Dawet bisa kita dapati dibanyak daerah di indonesia. Beberapa yang terkenal antara lain dawet ayu, dawet hitam dan dawet banjarnegara. Lalu apa bedanya dawet jabung dengan dawet lainnya.
Dawet yang berasal dari Desa Jabung Kecamatan Mlarak ini punya sejarah yang cukup panjang. Dahulu berjualan dawet merupakan sarana para perempuan mencari Jodoh. Mereka berjualan dawet dipinggir jalan dan ditempat-tempat keramaian. Cara menyuguhkan dawet jabung adalah sangat Khas. Penjual akan menyuguhkan dawet di dalam mangkok kecil dengan alas sebuah piring kecil atau “lepek”. Kemudian pembeli akan mengambil mangkuk dawetnya. Saat ada pemuda yang berminat menjadikan mereka pendamping, pemuda itu akan mengambil “Lepek” alas dawet bukan mangkok dawetnya. Dan jika gadis penjual berkenan menerima maka lepek itu akan dilepaskan. Sebaliknya jika tidak berkenan maka lepeknya tidak akan dilepaskan.
Sering berjalannya waktu, budaya mencari jodoh dengan berjualan dawet sudah tak lagi dilakukan. Tetapi dawet jabung sendiri telah terlanjur terkenal dan sampai sekarang masih dijual diberbagai tempat di ponorogo. Utamanya didaerah sekitar desa Jabung, sepanjang jalan Ponorogo-Mlarak.
Seperti dawet yang lain dawet jabung terdiri dari Cendol, Santan dan sirup dengan tambahan sedikit air garam. Yang menjadikan Khas rasa dawet jabung adalah sirup yang digunakan. Jika kebanyakan dawet menggunakan gula kelapa atau gula pasir sebagai sirup. Dawet Jabung menggunakan air nira kelapa atau “legen” sebagai bahan dasar sirupnya. Ini yang menjadikan rasa dawet jabung lebih segar. untuk menambah rasa kadang penjual menambahkan buah nangka kedalam sirup yang dibuat.

Jangan lupa untuk menikmati dawet jabung jika anda berkunjung ke ponorogo. Selain menikmati dawet jabung yang manis dan segar, anda juga bisa ngobrol bersama penjual dawetnya yang terkenal ramah dan rata-rata berwajah manis. (Dari berbagai sumber)

Facebook Comments