Anak Penjual Kue Jogja – Tak Ingin DiKasihani

rizalWakoka.Co.Id – Teladan baik bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil usia belasan. Seperti dari anak yang satu ini, Zyah Rizal Fadilah (11), bocah kelas 6 SD penjaja kue keliling. Bila banyak orang yang mengandalkan belas kasihan dari orang lain, Rizal justru memilih bekerja sendiri untuk membantu ekonomi keluarganya. Bahkan dia tidak mau di kassihani  karena kondisinya itu.

“saya tidak ingin dikasihani karena kondisi ini, bapak mengajarkan saya untuk lebih baik menutup tangan daripada membuka tangan” kata rizal.

Sejak kelas 2 SD

Rizal sudah mulai berjualan kue keliling kampung di Minomartani, Ngaglik sleman Sejak kelas 2 SD. Awalnya ibunya tidak mengijinkan, tetapi karena dia memaksa hati ibunya luluh juga. satu syarat yang diberikan ibunya, Rizal boleh jualan tetapi nilai pelajaran sekolahnya tidak boleh turun. Kalo nilai ulangannya jelek, ia harus berhenti jualan.

Sejak diizinkan ibunya berjualan kue keliling saat ia kelas 2 SD dulu, Rizal selalu mendapat nilai di atas 80 di sekolah.

“Nilai saya rata-rata 80, Mas hehehe…Beberapa kali masuk ranking 3 besar. Alhamdulillah,” kata Rizal saat berbincang dengan Kompas.com di rumahnya di daerah Minomartani Ngaglik Sleman, Yogyakarta, Rabu (23/09/2015).

Johansyah (48), ayah Rizal mengaku, telah berulang kali melarang putranya jualan. Ia ingin Rizal fokus pada sekolahnya. Namun putra keduanya itu bersikeras untuk berjualan kue dan jus keliling. Baca: Jangan Pernah Beri Uang Lebih pada Bocah Penjual Kue Keliling Ini.

“Saya baru tahu kalau Rizal jualan itu setelah dua hari. Soalnya saya keliling jualan gas dan aqua, pulangnya sore,” ujar Johansyah (48) dalam kesempatan yang sama.

“Kalau ibunya lebih tegas, nilai sekolah jelek enggak usah jualan. Fokus belajar,” tambah Johansyah.

Rizal memegang teguh kata-kata ibunya. Sepulang sekolah, sekitar pukul 14.00 Rizal keluar rumah mejajakan kuenya. Ia baru kembali ke rumah sekitar pukul 18.00.

“Sampai rumah kan Maghrib, mandi terus sholat. Setelah itu belajar,” tuturnya.

Dia ikut bimbingan belajar di masjid dekat rumahnya dari pukul 20.00 sampai 21.00. Sepulang belajar dari masjid, ia mengaku menambah lagi jam belajarnya di rumah.

“Kalau sampai jelek saya pasti engga boleh jualan. Jadi harus terus dapat nilai bagus,” kata dia.

Nilai jelek

Saat kelas 3 SD, cerita Rizal, ia pernah mendapat nilai di bawah 80. Mengetahui hal itu, ibunya melarang Rizal jualan.

“Saya disuruh berhenti jualan. Kata ibu buat apa jualan kalau nilai sekolah saya jelek. Yang penting itu fokus sekolah dan tidak lupa ibadah,” tuturnya.

Rizal bersikeras ingin tetap jualan demi membantu kedua orang tuanya. Ia sadar, kedua orang tuanya mesti bekerja keras untuk menghidupi keluarga.

Rizal mengaku, pada masa-masa awal, ia sering diejek teman-temannya. Ia tak menghiraukan hal itu. Beberapa gurunya malah kini menjadi pelanggannya.

“Diejek sama teman-teman, tetapi biarkan saja. Kan usaha jualan ini halal,” kata dia.

Berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang senang bermain di luar, Rizal lebih senang menghabiskan waktu di rumah membaca buku atau majalah.

“Saya tidak suka keluyuran. Saya lebih suka membaca buku dan majalah. Ya memang majalah bekas tapi kan bisa menambah ilmu,” katanya.

Ia mengaku bercita-cita ingin menjadi Tentara . Cita-cita ini terilhami oleh sang Kakek yang pensiunan Tentara dengan pangkat terakhir Letnan Satu.

“Cita-cita saya ingin jadi tentara. Kakek dulu juga tentara,” ucapnya.

Dimarahi

Johansyah bercerita, di hari-hari pertama jualan saat kelas 2 SD dulu, Rizal pernah pulang sambil menangis. Ia dimarahi orang karena sepanjang jalan berteriak menjajakan dagangannya, “Sandwich… Sandwich… Sandwich… Sandwich.”

Johansyah lantas mendatangi orang yang memarahi putranya. Ia minta orang itu mengerti niat Rizal berjualan.

Saat itu, kata Johansyah, selain ingin membantu orang tua,  Rizal berjualan karena ingin membeli tas sekolah dan Alquran. Sebab sebelumnya, tas berisi Alquran milik Rizal hilang saat ditinggal di musala, padahal Rizal sedang menghafal Alquran atau tahfidz.

“Niatnya mau menabung beli tas dan Alquran. Sekarang ia sudah mampu menghafal 2 juz dan 7 surat Alquran,” kata Johansyah

Menyisihkan untuk Infak

Rizal mengaku dalam sehari ia bisa membawa pulang uang Rp 170.000 hingga Rp 200.000. Ia berikan semua kepada ibunya. Setelah dihitung, selisih hasil jualan ia tabung.

“Sisanya saya tabung, Mas. Kalau suatu saat butuh kan bisa buka tabungan,” ujarnya.

Dari hasil tabungannya itulah, Rizal mampu membeli sepeda BMX bekas seharga Rp 700.000 yang saat ini dipakai untuk berangkat sekolah dan jualan.

Belum lama ini, Rizal juga menyisihkan uangnya untuk membelikan kue ulang tahun untuk adiknya.

“Saya juga menyisihkan untuk uang infak,” ucapnya.

Tidak besar jumlahnya. Namun, menurut Rizal, bapaknya mengajarkan, seberapa pun nilainya, biasakanlah selalu menyisihkan sebagian rezeki hasil jualan untuk orang lain. (disunting dari kompas.com)

Facebook Comments